10 Maret 2014

Pada Mulanya Adalah Kapas

"Ceritakan tentang kampung halaman"  katamu suatu sore dari pulau Jawa kepadaku yang sedang mencari-cari langit senja di balik Ile Boleng - yang tidak pernah kutemui setiap kali kutunggui dia di pintu dapur.
" Nanti saja kau baca tulisan ku di blog,,, semua sering ku tulis di blog kok" janji ku padamu adik kecil ku yang seram - bagiku kau selalu lebih seram dari preman pasar meskipun setiap bulan kau selalu rebonding dan mukamu kau putihkan secara sengaja!!!

Dan inilah salah satu cerita itu,
Bukan tentang emas, intan atau permata

Tetapi tentang kapas!!! (yang mengingatkanku kembali pada ANT-teori jaringan aktor yang kubaca di akhir penulisan thesis ku--catat di akhir!! bukan di awal!! Teori ini bercerita tentang bagaimana benda-benda juga bisa mengontrol hidup aktor lain seperti manusia)


Begini ceritanya,,,,auuuuuuuuuuu (suara lolongan anjing hutan) :p

Pada Mulanya Adalah Kapas,,,,
Pohon Kapas dahulu katanya banyak di tanam di daerah Witihama (kampung kita itu bagian dari kecamatan Witihama) dan Koli, ada kapas dengan biji kecil dan kapas dengan biji besar ,,, hanya penenun sejati sajalah yang bisa membedakan kedua jenis pohon kapasnya....

Saat ini, pohon kapas sudah jarang di tanam, bahkan di Witihama sendiri, pohon kapas yang semula ada di kebun dekat rumah, kini pindah ke kebun yang jauuuuhhh sekali, itupun tidak banyak lagi di tanam...


Pada Mulanya Adalah Kapas,,,
Setiap kali pulang, aku selalu minta makan - paduk light dinner - ore - satu kali, aku melihat mama Kewa mempersiapkan acara paduk light dinner ku dengan menggulung kapas yang sudah dicampur dengan minyak alami untuk dijadikan paduk. Setiap kali ritual ore ini akan dijalankan, terlebih dahulu Bapak Tua akan menyalakan paduk dengan korek apinya sambil melantunkan pelan bahasa koda. Kalau paduk sudah menyala, ini artinya leluhur sudah hadir; segera pakai kewatek, duduk di atas kenatan dan pasang muka serius sudah!!


Pada Mulanya Adalah Kapas,,,
Kapas ini menjadi bahan utama dan awal untuk pembuatan kewatek, tenunan tradisional yang hari ini menjadi identitas kita orang Adonara. Kapas atau lelu yang putih dan sudah diproses sehingga bersih dan terlepas dari bijinya ini kemudian akan di tarik-tarik untuk dijadikan benang dalam aktifitas yang kita kenal dengan menarik kapas - turek lelu-.
Turek Lelu, mengajarkan kita untuk bisa mengendalikan kekuatan jari, karena saat turek lelu, jari kita tidak boleh terlalu kuat atau pun terlalu lemah. Kalau terlalu lemah, benang tidak jadi, kalau terlalu kuat benang bisa putus.

Pada Mulanya Adalah Kapas,,,
Kapas, menjadi salah satu bahan utama dalam upacara adat,,,,, selalu ada kapas.
"Kapas ini mama selalu tanam, satu-satu juga tetap ada di kebun. Kita harus tanam kapas, karena kapas kita pakai untuk preta ekan, kalau mau cari kapas, ayo ikut mama ke kebun, di pintu masuk kebun mama ada tanam kapas" begitu kata mama kewa sewaktu aku menanyakan adakah kapas di kebun kita.
Preta ekan secara harafiah berarti memerintah lingkungan, secara sederhana; kapas kita gunakan dalam ritual dan acara adat ketika kita berkomunikasi dengan leluhur. Secara kompleks; kalimat ini juga menyiratkan bahwa segala sesuatu dapat terjadi karena kapas.


Pada Akhirnya Adalah Kapas,,,

04 Oktober 2013

Kosong

Balutkan aku malam yang agung
Pada kesepian dan dingin mu aku belajar bertahan dengan jemari-jemari kecil ku

Kuatkan aku mimpi yang terang
Pada cahaya mu di pagi hari aku mendapat petunjuk untuk jalan berikutnya

Sabarkan aku sungai yang ramah
Pada kemampuanmu memberi dan mengalir aku belajar bertahan dalam kesusahan

Pada mu embun aku mengikut
Ada dan tiada dalam waktu yang tak disadari


15 Agustus 2013

Sedon Noon Barek

Aku teringat sebuah kalimat dalam sebuah novel yang kubaca di kota karang beberapa waktu lalu,

"Dongeng menceritakan kebenaran dengan cara lain, Nak. Yang penting, kamu harus bisa menemukan cara baca yang lain itu" 

Aku suka sekali kalimat itu, meski tidak terlalu paham cara membaca yang lain itu, yang pasti... ini dongeng yang paling kusuka,,,,dan ini dongeng pertama yang kudengar langsung dari seorang pemilik kebijaksanaan,,,dongeng-dongeng lainnya, biasanya kudapatkan dari membaca buku dan tulisan-tulisan terpenggal dimana-mana (itulah kenapa sekarang mataku minus gak kira kira)

Ini lah dongeng pertama itu yang kudengar langsung dalam tiap nada kalimat yang selalu mengalir dalam darah sampai ke ujung jemari di sepanjang penulisan thesis romantis ku yang di tuduh sebagai komik oleh seorang teman ... in fact... dongeng ini ku letakkan di "ruang" khusus dalam lembaran thesis ku yang hampir jadi :D --- ku tempatkan diantara hati dan jantung, karena sebagian darinya memberiku rasa penasaran untuk meneruskan perjalanan membangun "rumah" tenun ---  
#karena dongeng ini diteruskan oleh seorang pemilik kebijaksanaan kepada pemilik jaman#
#dan ruang-ruang itu akan kita isi dengan lukisan-lukisan yang tidak akan hilang sampai kapanpun,,,karena kita meruang bersama seluruh semesta yang agung#
#dan lukisan-lukisan lama itu akan kita letakkan pada ruangnya --- diantara hati dan jantung setiap generasi yang menanggung darah kemerdekaan, kebudayaan dan kebahagiaan bagi semua rakyat di dunia"

11 Agustus 2013

Dunia Para Penenun - Terlambat Satu Bulan

-Hari ini membongkar beberapa catatan lapangan, kutemukan sebuah catatan lapangan yang manis,,,, Tentang kisah cinta seorang penenun yang kukenal --


Cerita manis setelah sarapan pagi ini. Semalam saat mendoa 100 harinya Ina Kewa dan syukuran wisuda anaknya. Ina Prada dan Ama Kopong berbicara lama sekali dalam bahasa kampung yang cepat dan suara pelan sehingga nyaris tak ku mengerti apa yang mereka bicarakan. Karena sudah mulai bosan dan merasa tidak nyaman, ku katakan pada Ina Prada “ina, balik ki, go matak odo”. 
Sekali ku katakan dalam nada pelan tapi tak diindahkan. Berikutnya terpaksa ku katakan dengan nada sedikit keras supaya terdengar. Akhirnya kami pun pulang.

Keesokan paginya, aku bersama seorang teman datang untuk sarapan pagi bersama di rumah Ina Prada.. Kemudian Ina Prada mulai bercerita tentang apa yang ia dan Ama Kopong bicarakan.

Semalam ternyata mereka membicarakan perihal hubungan mereka dahulu #pantas saja aku pernah mendengar Ina Prada memanggil Ama Kopong dalam panggilan yang sangat akrab#.
Dulu, sebelum merantau, Ama Kopong memberikan cincin pada Ina Prada sebagai tanda pengikat cinta dan janji mereka dengan kesepakatan untuk bertemu pada awal 1983 untuk berkat di gereja. Tetapi pada akhir 1982, seorang pria lain pun pulang dari rantau; ia dihubungi oleh kerabatnya untuk pulang lebih cepat kalau ingin menikah dengan Ina Prada karena “disini banyak yang mau sama dia”, kemungkinan karena kerabatnya ini sudah mengetahui soal perjanjian 83 sehingga meminta saudaranya untuk pulang di akhir tahun 1982.

Di rantau, Ama Kopong baru mendapat kabar rencana pernikahan Ina Prada lama sekali karena saat itu belum ada HP atau teknologi komunikasi lainnya dan bahkan setelah mendengar kabar itu Ama Kopong pun masih harus menunggu Bapak kecilnya menyelesaikan urusan mereka untuk pulang ke Adonara bersama-sama.

Sementara di kampung, entah kenapa Ina Prada yang saat itu tidak berpikir untuk menikah dengan orang lain dan mengatakan bahwa ia memang sudah ada yang punya. Tiba-tiba di kondisikan secara tidak sengaja dan sedikit diluar kendalinya untuk menikah dengan pria lain ini. Akhirnya menikahlah mereka dan berangkat meninggalkan Adonara pada Desember 1982. 

Januari 1983 Ama Kopong pulang dari rantau, awalnya tak ada yang berani memberitahukan perihal menikahnya Ina Prada,  ia masih memajang foro kekasihnya di dinding rumahnya. Setelah mendengar kabar pernikahan Ina Prada, hati Ama Kopong hancur berantakan.

Sempat mereka bertemu beberapa tahun kemudian setelah masing-masing menikahi orang lain dan memiliki keluarga, tetapi tidak saling sapa. Lama kelamaan, Ina Prada mencoba menjalin komunikasi karena ia merasa, ia juga tidak sengaja melepas ikatan cinta mereka. Kata maaf juga belum sempat terucap. Bahkan setelah suami Ina Prada meninggal pun mereka belum mendapat kesempatan untuk saling berbicara. #dapat dimaklumi, karena di kali lain, Ina Prada pernah bercerita tentang komunikasi privat laki-laki dan perempuan yang pada generasi mereka sangat dibatasi, bahkan ketika waktu telah berlalu, mereka masih mengikat diri pada tata krama generasi mereka#

Dan kemarin malam, setelah 30 tahun lamanya, saat mereka ada kesempatan untuk saling bicara tentang masa lalu, saat kata maaf itu akan di ucapkan oleh Ina Prada, aku malah meminta pulang cepat. Sehingga kata maaf itu pun tidak sempat terucap.

Tak berapa lama,,,,ku dengar kabar,,,,  istri Ama Kopong baru saja meninggal dunia,,,

Entah bagaimana cerita ini akan berlanjut ... 


11 Juli 2013

Dalam Luka

Mengingat kadang menyengat
Mendekap luka memeluk hampa
Mendapati malam tidak selalu ramah


Mengingat membuat luka
Melupakan membuat buta


Akhirnya hanya berteduh pada peluh
Peluh yang tidak luluh
Karena tawa tak mampu disuluh


Hanya perlu bertahan untuk tak lupa pada satu hal
Menghirup nafas
Kalau pun lupa
Mungkin kesana luka selalu membawa

     

11 Juni 2013

Selamat Ulang Tahun

Pertama kali kita ketemu, umurmu masih sekitar satu tahun lebih,,,, kau keliatan shock, karena mama eya ternyata tak secantik foto wisudanya (percayalah nak, peraturan kampus waktu itu benar-benar membuat mama eya ke salon demi sebuah foto wisuda).

Setelah otak cerdasmu mengidentifikasi ku sebagai orang yang selama ini sering skype dan sadar bahwa aku bawa seonggok sogokan dari negeri Kincir,,,,,kau mengikutiku kemanapun aku pergi, termasuk membantu ku membereskan koper ku (mengacak-ngacak pakaian dan memaksa diri membaca buku-buku yang kubawa, ough, kau sudah mulai keliatan seperti seorang pekerja keras dan pelajar sejati nak)

Besoknya, aku mendapatimu melirik dan mengawasi pacarku dari sudut matamu, dan selalu mencuri-curi melihat mukanya. Aku tidak yakin apakah itu bagian dari rasa penasaran ataukah bagian dari rasa sukamu yang buat aku cemburu. Cemburu kau melirik pacarku, bukannya aku, mama eya yang cantik, baik hati murah hati dan tidak sombong!!!!

Di hari lain, kita pernah di tinggal berdua saja oleh nenek, kau dalam keadaan tidur, saat bangun, kau menangis kencang, aku tidak mengerti kenapa kau menangis, bukan cuma kau, aku tidak mengerti kenapa anak kecil suka menangis, padahal sudah makan, baru bangun dan tidak ada ancaman bencana baik sosial maupun alam yang cukup berarti. 
Aku sudah jelaskan dengan kalimat non formal bahwa situasi ini hanya sementara, sekitar 15 menit lagi nenek pulang...tapi kau tidak paham. Jadi ku biarkan saja kau menangis semampumu, sampai ku telpon nenek dan memberikan hpnya kepada mu karena kupikir kau mungkin ingin penjelasan dari nenek, tapi kau tambah menangis. Syukurlah setelah 15 menit nenek memang benar-benar datang.

Di namamu, ada disematkan nama Benga Bala, dia itu salah satu buyut mu dari kakek Siba Ama. Dia dulu di kampung dikenal sebagai orang yang dapat mengobati orang yang tak punya anak menjadi bisa punya anak dan membantu proses pelahiran. Siapa tau kau juga berniat meneruskan keahliannya nak, di kota belajarlah kau pada Bidan, di kampung, belajarlah pada Benga Lebe, saudara perempuan kakek Siba yang saat ini dipercayai meneruskan keahlian buyut Benga Bala. 

Kalau kau tidak berniat belajar, tak apa nak,,,,itu pilihan bebas mu, aku tidak memaksa, karena aku tau betul rasanya dipaksa nak,,,,,buat tugas, kejar deathline, belajar, kerja, apa-apa yang dipaksa atau terpaksa itu gak enak banget, termasuk ketika mukamu suram saat dipaksa ke gereja di malam natal hahahaha,,,kau belum secerdas ku yang bisa membuat satu alasan signifikan untuk tidak ke gereja di malam natal nak heheheh 

                                           ----------SELAMAT ULANG TAHUN------



16 Mei 2013

Narsis cara saya!!!

Kita mungkin masih akan mencari-cari jalan, memutuskan batas antara eksploitasi budaya dan penegasan identitas. Kita juga masih mencari-cari pola menuju kemandirian dan kedaulatan berbasis budaya lokal, meningkatkan ekonomi dengan tidak melepaskan atau mengurangi nilai budaya dari kain ini.

Dan sampai waktu itu tiba....mari kita nikmati perjalanan mencari identitas ini,,,mencari identitas kewatek, mendefinisikannya, mengkarakterisasikannya, melestarikannya dan pada saat yang sama mengembangkannya ....
Dan sebelum waktu itu tiba,,,mari kita nikmati proses belajar dan berjuang ini.... membumikan mimpi dalam visi dan stategi yang kita mampui.... meski kecil, kita perlu sesuatu yang dengan bangga dapat kita sebut sebagai "milik kita", "identitas kita"