09 Agustus 2016

Sampai Nyala Terakhir

Sampai nyala terakhir ku tunggui
Inilah terakhir kali aku dapat tempat di sudut mu
Terakhir kali sudut mu menjadi segala ruang ku sepenuhnya

Terakhir yang baru ku ketahui akhir akhir ini
Pantas saja hari itu hati ku terasa tercerabut dan air mata berserakan di dalam jantung
Karena kali lain aku datang sudutmu sudah bukan ruang ku

Kali lain ini, berkali kali mengemis pun tempat ku sudah bukan di sudut mu
Kali ini, berkali kali merindu pun rumah ku sudah bukan di jantung mu
Kali ini, berkali kali berteriak lapar pun kau tak akan datang membawai hura yang kau tanam sendiri atau pepaya kurus yang selalu kau bagi sama rata untuk aku dan babi

Tetapi nyala yang kemarin dan yang akan datang
Tetaplah menjadi pertanda untuk kau selalu datang
Pada detak yang mencetak sejarahmu
Pada nafas yang melafas namamu
Di depan dan selamanya akan di depan

‪#‎reproduksi‬ ruang perempuan Adonara

04 Agustus 2016

Pernikahan Adat Adonara 1

Sebenarnya agak malas juga menuliskan tentang pernikahan kami bulan Juli 2016 lalu,  selain karena terlalu banyak yang harus di tulis, sebagian besar merupakan momen yang hanya mau tinggal diantara jantung dan hati saja, tidak mau keluar menjelma kata - kata. 

Dalam kondisi masih capek dan galau karna mendapati tugas yang menumpuk dan pacar yang berubah wujud jadi suami :p , akhirnya ku paksakan minimal menyusun dalam bentuk puzzle gambar - gambar dengan sedikit keterangan. Sebagai pengingat kalau - kalau suatu hari naluri menulis dan meneliti adat pernikahan muncul  atau sebagai pengingat di masa depan tentang bagaimana proses salah satu adat pernikahan di Adonara.

Tidak semua proses dapat di ambil gambarnya, beberapa dalam bentuk video dan beberapa lagi dalam bentuk ingatan, dan proses ini terutama dari pengalaman keluarga pihak perempuan. Berikut adalah beberapa tahapan yang sempat di simpan dalam memori kamera. Ini bukan tentang pernikahan ku dan om brewok,,,,tapi kami, karena ternyata ikatan ini bukan cuma untuk aku dan om brewok saja, tetapi untuk semua keluarga besar di Lamaleka dan Horowura.

Bulan September tahun 2016, keluarga dari Horowura datang untuk Maso Minta, ada beberapa kali pertemuan dalam tahapan maso minta yang kemudian membuat kami berstatus wae barek dan lake kopong ini.


Berikutnya masih ada beberapa pertemuan di keluarga masing - masing untuk membagi tugas dan tanggungan setiap anggota keluarga besar diantaranya adalah pupu bine dan pupu kaka arin , berikut persiapan -  persiapan teknis seperti mempersiapkan kayu bakar dan kelangat, menampi beras, mempersiapkan lemari, atau juga mempersiapkan binatang - binatang untuk acara.

  

Tanggal 8 Juli 2016, Kaka Arin sudah datang untuk pupu kewatek di Lamaleka, kewatek dari kaka arin ini sudah mencapai satu lemari.

Tangal 10 Juli 2016, semua keluarga besar sudah berkumpul, bahkan yang dari malaysia sudah datang pulang hanya tinggal satu -satu saja keluarga yang masih ditunggu. Tenda pun sudah mulai berdiri. Dan orang - orang sudah mulai berdatangan untuk Tulun Talin sampai tanggal 12 Juli 2016
  

Tanggal 12 Juli 2016, Keluarga dari Horowura datang ke Lamaleka untuk Dopen Witi Bala, ada dua gading dan 20an ekor binatang. Mereka datang bersama sekitar 20an mobil, Lamaleka pun tumpah ruah. Dalam prosesi ini juga ada tahapan dimana aku melakukan "warak kakang" bersama om brewok yang menyodorkan rokok untuk bapak dan opu nana.
 

Keesokan harinya, aku di antar bersama dua lemari plus dua koper tenun dan juga beras, kacang hijau juga beberapa hewan, tak ku ingat lagi jumlahnya. Setelah di antar, aku di ajak masuk ke dalam rumah adat dan malam harinya melakukan Geri Lamak pada acara Bua Mure

 

15 Juli 2016, kami masuk gereja minta berkat dari persekutuan gereja Katolik di lanjutkan dengan makan keluarga. Prinsip bapa Ellias adalah; bersama -  sama di dalam adat, bersama - sama di dalam gereja. Dengan begitu tidak ada undangan, karena semua keluarga besar datang berkumpul dan bersilaturahmi bersama. 

Setelah Bua Kote, maka pada tanggal 17 Juli 2016 di adakan upacara adat Tewa Laga, bersamaan dengan ini juga api yang di gunakan untuk memasak di sirami air.

Ada juga satu upacara adat lagi yang kalau tidak salah namanya adalah Gola Bawa Ala, mengembalikan gong yang telah di bunyikan pada saat upacara pernikahan kami.



Demikian sepenggal tahapan adat yang dapat di dokumentasikan, Terimakasih untuk semua yang sudah bersama - sama di dalam adat dan di dalam gereja. Cinta kalian meretas semua batas ruang dan waktu dan semoga kami mampu meneruskan tradisi dan cinta ini sampai jaman setelah nadi tak berdenyut.

02 Juni 2016

Hotmix vs hot damn


Kali ini ,,,
Perjalanan menyusuri  "Tuan Atas Tanah, Tuan Atas Jantung" mendapat bala bantuan dari surgawi (begitu peri gosip menyebut kedatangan om brewok untuk membantu proses pengumpulan data ku kali ini). 

Peri gosip yang juga memaksa menyebut diri sebagai putri Shanghai dan sering mengaku sebagai cindy ini menyebut om brewok sebagai bala bantuan dari surgawi karena titik - titik sulit di daerah penelitian akhirnya ku jangkau bersama om brewok yang demi secuil pengetahuan alami - pengetahuan yang lahir dari tanah dan langit - seperti biasa tidak gentar menghadapi badai bahkan hujan petir sekalipun, apalagi jalanan terjal yang selalu membuatnya memaki tuan Bupati dimanapun engkau berada.

Kali ini, sakit hatinya bertambah,,, karena sepulang dari mengunjungi petani di sebuah desa yang jauh di atas gunung ,,, kami harus pulang mengantar sepeda motor yang kami pakai ke daerah yang katanya adalah daerah elit, “bupati tinggal disana cuy” dan jelas saja, tidak bisa disamakan!!! Jalanan ke rumah bupati pasti “hotmix” sementara jalanan ke rumah dan kebun petani selalu saja “hot damn”.


Ini pelajaran analisis standar, pertama kali kupelajari di organisasi tempat aku dan putri Shanghai menempa diri. Jalan dan infrastruktur lainnya hanya “dibagusin” kalau ada pejabat tinggal disana, berkali – kali turun untuk analisa sosial, selalu saja kenyataan ini yang ku temui.  Mungkin Cuma bisa di rubah, kalau setiap bupati yang menjabat di paksa buat rumah di kebun -  semacam rumah dinas bupati begitulah yang posisinya jauh di gunung di balik kebun, tapi yang dia punyai ya Cuma rumah dinas itu, jangan terus malah ekspansi dan membeli lahan disekitarnya. Dan jalan kebun itu mestinya ada jalur untuk pejalan kaki, binatang – kuda dan anjing – dan kendaraan. Supaya petani sehat bisa tetap jalan kaki santai ke kebun dan terhindar dari sakit jantung, dan hubungan petani dengan anjing penjaga kebun dan kuda pengangkut air tetap terjalin dengan baik.

Soal jalan ini, memang memancing panas dalam, Ernst Vatter dalam bukunya ata Kiwan sempat menuliskan tentang pribumi Lamaholot yang “malas” lewat jalan yang di bangun belanda karena “malas” ketemu belanda yang bisa saja mood nya lagi pengen nyiksa. Pasalnya:
Masyarakat pribumi harus bayar pajak 4-5 gulden pertahun oleh laki-laki dewasa yang mampu bekerja. Dan harus bekerja untuk umum selama 24 hari dalam setahun tiap kampung (herendienst) terutama untuk membuat dan memelihara jalan. (Vatter, 1984, p. 24)
Diakhir diskusi dengan om Brewok  jelang pilkada Flotim 2017 ini, akhirnya kami putuskan, kami akan sedikit berpikir melepas jubah golput kalau ada Tuan/Puan Bupati yang mau membangun rumah dinasnya di kebun. Selain demi memperbaiki jalan ke kebun, juga demi kemerdekaan dari Kebun untuk sebuah kemerdekaan kaum kecil dari atas meja makan!!!

PSomiKedan
2 Februari 2016
             

Daftar Pustaka

Vatter, E. (1984). Ata Kiwan. Ende: Percetakan Arnoldus.


01 Mei 2016

Kunjungan dari Arah Timur

Dua kali,  saudara saudari dari timur datang mengunjungi ku, sebenarnya kunjungan dari arah barat yang mengaku sahabat juga sangat kuharapkan, tetapi katanya "apa daya, persahabatan kita berat di ongkos mamen" :(

Kelimutu dan Air Terjun Moni

Kujungan pertama dari kaka sepupu bersama keluarga kecilnya di Larantuka, dengan membawa tiga perempuan kecil yang cantik dan menggemaskan, dia sudah menentukan tujuan nya, menikmati libur paskah di Kelimutu, danau tiga warna yang menjadi keajaiban bagi dunia dan tujuan akhir bagi orang - orang yang hidup disekitar danau kelimutu. 

Sekitar Jam 03.00 pagi kami berangkat dari Kota Ende, perjalanan yang gelap dan sepi kami lalui dengan perasaan masih mengantuk, lapar dan sendirian, tetapi agak mengejutkan ketika sampai di pintu gerbang kelimutu sekitar pukul 05.00 pagi itu puncak Kelimutu sudah di penuhi banyak orang dan bahkan matahari terbit sudah mulai menampakkan dirinya.




Aku memutuskan ikut dengan kaka sepupu dan keluarganya sampai di Wolowaru untuk kemudian mencari travel pulang ke Ende dari situ. Harus ku ingat rupanya, bahwa travel menuju Ende pada hari minggu agak jarang. Di perjalanan Kelimutu - Wolowaru kami mampir di Air Terjun Moni dan menyempatkan diri untuk pobar (poto bareng), agak kagum juga dengan hasil akhir foto karena ketiga gadis cantik ternyata bisa di ajak foto dengan kecepatan sangat rendah dimana mereka harus bertahan untuk tidak komen, tidak merubah struktur senyum mereka atau tidak berteriak :D



Taman Permenungan Bung Karno, Monumen Pancasila dan Pantai Bita

Kunjungan kedua datang dari Maumere, saudara saudari ku ini sampai di Kota Ende pada malam hari dan berangkat kembali ke Maumere pada pukul 11.00, mereka ke Ende hanya untuk bermalam minggu dengan ku sooooo sweeeeeettttttt :D. Waktu yang singkat membuat naluri tukang foto ku menipis tetapi kami menghabiskan nya di beberapa tempat ini dengan sangat keren :D 

Taman Permenungan Bung Karno


Monumen Pancasila



Pagi Hari di Pantai Bita