17 Mei 2017

Melukis Musim Semi 2017 Dengan Cahaya

Musim semi kali ini hampir selalu saya habiskan dengan nongkrongin tulip hampir setiap senja sepulang dari kampus. Menikmati keunikan yang hanya terjadi sekitar tiga bulan dalam setahun. 

Menghafal jalanan menuju sumber - sumber tulip dengan bekal coba - coba jalur bus sambil mengamati sebuah website yang di berikan seorang teman http://www.bloemenradar.nl/

Ada empat lokasi tempat saya biasa menunggui senja, menikmati sepi dan meresapi belaian angin yang selalu sendu di bulan April.

1. De Nachtegal, adalah lokasi pertama yang saya ketahui berkat petunjuk supir bus


2. Engelenbuurt, sebenarnya tempat ini sudah pernah saya kunjungi sekitar dua tahun lalu, tetapi tanaman yang saya temukan sudah tidak lagi sama










3. Beekbrug, adalah lokasi yang saya temukan dengan modal rasa penasaran dan petunjuk dari teman, dan pada akhirnya, ini adalah tempat yang paling nyaman untuk menunggui senja, bersama se ladang tulip dan beberapa tiang listrik yang kadang mengganggu komposisi foto




4. Noordwicjk, lupa nama haltenya, tetapi lokasi ke-empat ini adalah lokasi yang saya temukan berkat bantuan website bloemenradar dan google maps




Tidak hanya tulip, di musim semi ini, sebuah kebun bernama The Japanese Garden berlokasi di sekitar Den Haag juga di buka;



10 Mei 2017

Barcelona Kami Datang!

Perjalanan kali ini murni merupakan hasil pencarian spontan terhadap tiket murah untuk lari dari Belanda -baca; lari dari kenyataan, bahkan tulisan ini pun di buat sebagai pelarian dari kesuntukan mengejar deadline ... saya dan deadline bagaikan developing dan develop country yang tidak akan pernah bertemu, develope country nya deadlinenya pantang mundur sementara developing country nya juga maju dengan gemetar, stress, panik dan labil. Curhat lagi!

Akhir pekan kali itu, tiket ke Paris; destinasi ambisius saya ternyata lebih mahal dari pada tiket ke Barcelona, jadilah saya dan teman saya, si pelukis lain yang juga senang melukis dengan cahaya-hanya saja dalam bentuk video-memutuskan untuk mengepak literarly satu tas dan kabur ke Barcelona. 

Dengan bekal; satu pakaian di badan, satu tas di badan, tanpa alat mandi dan tanpa bookingan hotel, kami menuju Barcelona. Tiga hari dua malam, bermalam di emperan cafe di dalam airport sambil menyesal lahir batin karena tidak membawa selimut 😁.

Dan Inilah sekelebat laporan satu hari penuh mengitari Barcelona!

Demi langit dan bumi, kami bertekad hanya makan Paela ini satu kali saja! Karena rasa nikmatnya tidak sesuai selera budget kami! Bikin dompet jadi kariting melarat! Ini nih, yang disebut nikmat duniawi! Menelan dua miniatur sagrada dalam satu kali leeep!

Sagrada Familia, salah satu rancangan Antonio Gaudi ini cuma bisa kami tatap dari jauh sambil selfie karena terlambat mendaftar masuk, pendaftaran yang sebenarnya bisa dilakukan online atau secepatnya saat tiba di pintu masuk nya. 

Camp Nou, stadion FC Barcelona ini sebenarnya bukan tujuan utama saya, tetapi kegagalan memasuki Sagrada Familia dan antrian panjang memasuki Park Guell memberikan kami cukup banyak waktu untuk sejenak menikmati nuansa lapangan hijau yang menyatu dengan museum dan toko souvenir. Barang-barang di toko souvenir ini ternyata harganya sangat mahal, terlebih, baju pemain bernama Messi yang mencapai jutaan,,,tak ayal, kami hanya melewati toko souvenir tersebut sambil memeluk erat-erat dompet tipis yang mulai tak bermakna dengan kecepatan melebihi angin musim gugur di Belanda, yaaaa kira kira diatas 60 km per jam lah -_-'
 
 
Park Guell, bahkan si om brewok ternyata belum pernah mendengar nama Antonio Gaudi, perpaduan antara taman dan arsitektur ini sudah mulai di bangun sejak tahun 1900an dan tahun 1984 UNESCO menetapkan taman ini sebagai Cultural Heritage of Humanity. 
 


Hari sudah mulai gelap, kaki sudah sangat kariting, kulit sudah mulai bersisik dan foto sudah mulai noisy tanpa tripod. Kami memutuskan untuk menaiki bus mengitari kota Barcelona dan tanpa sengaja menemukan satu lagi masterpiece nya Antion Gaudi; Cassa Ballo!
Dengan cuaca yang mulai dingin, tanpa jaket yang memadai dan sejuta rasa bahagia dengan harapan besar berat badan menurun akh kibat seharian jalan mengelilingi Barcelona, kami akhirnya memutuskan untuk pulang, tidur di airport sambil menunggu pesawat kembali ke pelukan deadline yang semakin lama semakin seksi 😓 .

Terlahir Dengan Sayap!!

Jangan tanya kapan saya pulang!
Bahkan mereka yang sudah memberikan jiwanya untuk nafas saya tidak pernah memberikan pertanyaan itu!

Jangan tanya kapan saya pulang!
Kalau kamu bukan rumah saya!
Kamu bukan lelaki itu yang memeras keringat demi memahatkan sayap di mimpi mimpi saya
Kamu bukan perempuan itu yang selalu percaya pada semua mimpi saya dengan memberi makan tubuh mungil ini
Kamu juga bukan yang memahat rindu dalam dalam demi mimpi, cita-cita dan pengetahuan

Jangan tanya kapan saya pulang!
Kamu yang tidak paham bahwa rindu tak sama dengan basa basi
Kamu yang tidak paham bahwa sering kali rindu dan mimpi akan saling membunuh jika bertemu
Kamu yang tidak mengenal jiwa ini!

Jangan tanya kapan saya pulang!
Karena saya terlahir dengan sayap!




06 April 2017

Perempuan di Titik Nol



Baru saja selesai dengan perempuan di titik nol(Sa’adāwī 1989), saya mengenal novel ini dari sebuah perpustakaan di LSM perempuan tempat dulu saya pernah belajar dan bekerja, saat itu buku ini menjadi salah satu novel yang direkomendasikan untuk di baca saat seorang perempuan memutuskan untuk belajar dan berjuang sebagai aktor perempuan dalam arena perlawanan terhadap hegemoni patriarki.

Sudah cukup lama saya membaca novel ini sampai lupa pada isinya dan akhirnya demi merayakan hari perempuan bulan Maret lalu, saya meminjam buku ini dari perpustakaan kampus dan membaca nya ulang.
  
Titik nol mungkin saja berarti titik dimana seorang perempuan merasa hidup nya sudah di mulai lagi untuk kesekian kalinya dengan perasaan cinta yang berbunga – bunga tetapi pada akhirnya mendapati diri tetap kembali pada titik yang sama. Titik nol, titik dimana laki – laki dengan berbagai kamuflase (cinta, nafsu, agama bahkan atas nama revolusi) selalu berakhir sebagai yang mendefinisikan dan memperkosa perempuan sampai akhirnya menjadikan perempuan sebagai pelacur dalam level dan bayaran (mungkin juga tidak dibayar) yang rupa rupa.

“Saya tahu bahwa profesi saya telah diciptakan oleh lelaki, dan bahwa lelaki menguasai dua dunia kita, yang di bumi ini dan yang di alam baka. Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka dengan harga tertentu, dan bahwa tubuh paling murah dibayar adalah tubuh sang isteri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur yang bebas daripada menjadi seorang isteri yang diperbudak.” Firdaus, h.133
Novel ini juga melayangkan ingatan saya pada pesan terselubung yang di ajarkan pada perempuan pejuang, untuk tidak terlibat dalam kegagalan logika berfikir hanya karena mengalami perasaan yang mereka kira bahagia dan labeli dengan "cinta". Karena cinta sering menjadi senjata laki-laki menarik perempuan dari pergerakannya, dan pernikahan adalah penjara legal yang membunuh kemerdekaan perempuan. Karena itu, setiap kali seorang perempuan menemukan dirinya merasai "cinta", ingat ingatlah selalu untuk tidak meninggalkan isi otak dan hati di dalam keranjang ketololan yang sama.
“Tetapi di dalam cinta saya memberikan segala kemampuan, upaya, perasaan, emosi saya yang paling dalam. Seperti seorang suci saya berikan segalanya yang saya miliki tanpa memperhitungkan ongkosnya. Saya tidak minta apa – apa , kecuali mungkin hanya satu hal. Untuk diamankan oleh cinta dari segalanya. Untuk menemukan diri saya kembali, untuk mengenali diri sendiri yang telah hilang. Untuk menjadi makhluk manusia yang tidak dilihat orang dengan caci-makian, atau dengan pandangan rendah, tetapi dihormati, dan disukai dan dijadikan merasa utuh”. Firdaus, h.125
Pada akhirnya, bagi perempuan pejuang yang sudah memutuskan untuk menikah, yang sudah menemukan rekan tidur yang satu idealisme dengannya atau setidaknya satu perjuangan, novel ini menjadi inspirasi untuk terus menerus mencari bentuk memposisikan diri di dalam institusi pernikahan di hadapan adat dan tradisi.
Yah, di hadapan adat dan tradisi adalah bagian berat perjuangan perempuan Indonesia, karena rupanya menjadi the second sex di hadapan agama saja masih belum cukup mamen!!

Jalan panjang kawan, jalan panjang...  
“Sebab kebenaran itu selalu mudah dan sederhana. Dan dalam kesederhanaannya itu terletak kekuasaan yang ganas. … Dan untuk sampai pada kebenaran berarti bahwa seseorang tidak lagi merasa takut mati. Karena kematian dan kebenaran adalah sama dalam hal bahwa keduanya mensyaratkan keberanian yang besar bila seorang ingin menghadapi mereka.” Firdaus, h.149

03 Maret 2017

Sebelum Musim Dingin Ini Benar Benar Berlalu

Menikmati salju memang tak pernah mudah jendral!! Foto - foto berikut ini di ambil dalam keadaan waras, flu berat nyaris mimisan, tenggorokan nyeri dan panas tubuh yang tak menentu, serta harus di bagikan sekarang juga, sebelum musim dingin benar benar berlalu.

Setelah penantian dari bulan November, salju itu tidak juga datang ke Leiden, akhirnya bulan Februari, bersama seorang teman, saya memutuskan untuk mengepak makanan dan pakaian menuju Mount Titlis ,,, akhinya kaki mungil ini berhasil menginjakkan dirinya di salah satu bagian dari pegunungan Alpen, bukan cuma menginjakkan, tetapi juga menghentak hentak sambil cengengesan, lompat lompat alay dan tetap merasa sedikit lebih hangat dengan balutan kewatek 😉.

Serius, saya punya belasan stok pakaian dari kewatek untuk membaluti tubuh saya, setiap memakainya saya selalu berucap: dengan kain yang di buat oleh semua emak emak di Adonara ini, biarlah Lewotana ikut menjaga jalan yang sudah pasti tidak mudah ini, penuh dengan stress, kelabilan, kadang kadang badai (sampai 200 km per jam) dan sering di isi dengan kegilaan ini (curhat 😥).




Akhirnya, di ujung musim dingin, salju itu datang juga ke Leiden, setelah berkali kali di sumpahi untuk segera tiba!!! Dan bukan cuma buruh migran seperti saya, warga lokal juga berhamburan keluar rumah untuk menikmati salju yang konon tidak selalu sehebat ini di Leiden. Betul saja, salju yang hebat itu hanya datang di hari sabtu dan minggu, karena di hari senin, ia sudah hilang tak berbekas, bahkan orang orangan salju sudah berganti menjadi setupuk lumpur dengan sedikit sisa es yang tak berbentuk lagi. Seperti juga cintamu yang selalu meleleh di hadapan ketidakterorganisiran, ego dan ketidak warasanmu, ngalantur lagih.

Musim dingin kali ini benar-benar dingin, dinginnya menusuk sampai ke dalam jantung yang sepi, membeku kan otak dan darah serta membuat kaki basah menjadi kaku menjelma darah beku-literarly-. Satu satunya cara untuk membuat peredaran darah lancar adalah dengan tidak lupa meminum wedang jahe, makan makanan Endonesah yang kaya rempah rempah sambil menelfon emak,,,,supaya tetap bisa membayangkan masakan padang emak meski yang saya makan adalah masakan padang padangan 🤐


Moorspoot adalah satu dari dua pintu masuk kota Leiden yang masih tersisa sampai hari ini (konon kabarnya dulu ada sekitar 8 gerbang kota). Dibangun tahun 1669, gerbang kota yang kelihatan megah ini dulunya juga berfungsi sebagai penjara dan tempat menggantung kriminal, ajaib kan!!🤔
                             

Molen De Put
Setahun yang lalu di depan molen ini ada taman bermain anak - anak, tetapi sekarang tempat bermain itu ludes, tinggallah sedikit tanah lapang bersama sebuah lingkaran kecil bertuliskan nama nama kuburan di Indonesia.
Mungkin, itulah kenapa saya menyukai tempat ini, ada bau - bau Indonesianya, meski hanya dalam bentuk nama-kuburan pulak 😑






The Rembrant Park!!! begitu saya senang menyebutnya, berada di depan rumah masa kecil Rembrandt, taman kecil ini di isi lukisan, figura beton the rembrant dan patung the rembrant kecil yang pernah saya coba ajak bicara bahkan nyaris saya curhatin.

Fiuh,,,,jaman dulu, jaman di mana naluri antropologi benda masih benar benar belum bisa saya lepaskan -mungkin sampai sekarang- bukan cuma patung, angin dan hujan juga saya ajak bicara, hanya salju yang selalu sial karna selalu saya sumpahi untuk cepat datang dan cepat pergi begitu flu berat sudah menyerang.



Diantara perpustakaan dan Kitlv ,,, ini jalanan yang paling romantis, jalanan yang selalu menjadi tujuan utama saat dulu masih di Wageningen dan sampai sekarang, saya selalu suka menjadi setrikaan diantara bangunan - bangunan yang menyimpan banyak cerita, foto bahkan video nenek moyang ini. 
#finger-cross: semakin dekat pada mimpi mimpi terang



Hortus Botanicus di lihat jauh dari belakang ya seindah ini ketika ditutupi salju 😎,salah satu taman botanical tertua di Eropa barat ini di bangun tahun 1590, kabarnya di dalamnya ada 700an tanaman dari Jepang dan Cina, kabarnya. Karna entah kenapa, saya tidak pernah benar benar singgah dan menyusuri taman nya.

Molen De Valk
Tempat bermain segala musim yang di bangun tahun 1743 ini sudah mengalami penyempitan, kalau dulu, bersama seorang teman asal palembang yang jago masak, rajin beribadah dan rajin menabung, kami bisa piknik, tidur siang dan main petak umpet (dari kehidupan) di taman ini, sekarang taman kecil itu sudah tidak ada lagi kawan!!!. Kau mungkin akan menyebutnya sebagai detamanisasi 😒


Akhirnya, terimakasih musim dingin 2017 yang penuh dengan sensasi, selamat datang badai doris yang mengantarkan musim semi dengan sangat dramatis dan selamat datang kembali matahari (meski hangatmu selalu terasa palsu di negeri ini). Selamat berpuasa dan pantang untuk emak dan semua umat yang sedang menunggui Paskah. Tetaplah indah hidup mu di segala musim!!!