25 Mei 2011

Lamaleka - Redong - Lamahala

Maastricht, 25 Mei 2011

Ku tulis surat ini untuk saudara-saudari ku dan anak dari saudara laki-laki ku. Musim semi di negeri tulip tak sehangat yang ku bayangkan,,,kadang suhunya bisa di bawah sepuluh dan kecepatan angin bisa sampai 15 km per jam, tentu saja ini merusak keindahan kulit Adonara ku, membuat rambut rontok makin parah, gigi makin kering dan keceriaan masa remaja kian pudar :p dan yang paling bikin pusing tujuh keliling karna aku datang ke tanah kumpeni ini hanya dengan modal satu sweater tipis. Setiap bangun pagi dan sebelum tidur aku membayangkan mimpi yang ku coba raih sampai jalan ini mau-maunya ku tempuh sambil ngesot segala, tapi karna ini Belanda ngesotnya pake sepeda :D jadi masih bagusan dikit karena kaki ku tidak iritasi ^_^.

Surat ini bukan tentang Belanda,,,itu tadi cuma lebay - lebay an aja :D biar kalian bisa membayangkan bagaimana dingin nya jariku saat mengetik surat ini dan bahwa hidung ku juga kadang suka mimisan tidak jelas (bagian ini juga agak lebay).

Surat ini tentang kita anak cucu Kopong Teron, cerita yang ku cari bersama Teron pada April 2011.

Jika suatu saat kalian pulang untuk sementara atau untuk menetap di bebukitan Lamaleka dengan sumber mata airnya yang bikin sirik kampung lain tapi tetap tidak bisa membuat ku rajin mandi. Ingatlah bahwa kakek kita Kopong Teron tidak berasal dari Lamaleka, dia berasal dari Redong, wilayah yang konon kabarnya di bangun oleh suku Lamawuran, dia pergi untuk alasan yang di sebut "sebak watak bele", mencari jagung besar. Ia pergi untuk mencari rejeki di tempat lain dan mandiri, punya tanah, rumah dan mengurus keluarganya dengan usaha sendiri. Itu satu pelajaran dari Kopong Teron yang dulu ku benci karna selalu memaksaku mandi dan makan jagung titi yang keras (yang pada akhirnya juga ku cintai). Dan alasan ini lah yang buatku dan semoga kita semua bertahan dalam perjalanan sejauh atau seberat apapun.

Maka, setiap kali ada urusan adat, Bapak Kelake selalu datang ke Redong karna disitu tempat kakek kita berasal. Di Redong, ada satu bapak bernama Bosco, dialah yang punya kapasitas untuk bercerita tentang sejarah dan segala hal menyangkut suku kita. Carilah dia jika kalian ingin tahu lebih. Maap yee, ane kagak bisa cerita semua, bukan apa-apa, waktu itu ane kagak ketemu dengan bapak ini :D

Ada banyak hal yang bisa kita temui di Redong.
1. Rumah orang tua kakek kita Kopong Teron
2. Rumah Adat suku Lamawuran, Lango Bele. Sangat unik, karna di atas pintunya kita bisa menemukan ukiran patung putri duyung dengan anjing, kadal, ular dan kuda di bawah nya. Didalamnya masih ada berbagai perlengkapan nenek moyang kita berupa tombak, parang, peralatan memasak, dan alat-alat musik.


3. Nuba Nara, sebagai penghubung antara kita dengan Tana Ekan dan Rera Wulan.
4.
Nobo, tempat di adakannya rapat-rapat adat dalam keluarga
5. Uma Lango yang di sebut dengan Molo Go, di dalamnya terdapat Ori Bele, tempat duduk dari bambu, tempat urusan adat dilaksanakan.
 
Yang sedang tidak ada pada kita adalah "Koke Bale" yang sudah hilang dan belum jelas kapan akan dibangun lagi.

Dari Redong kita akan dituntun ke Lamahala, di Dusun Dua sebelah kiri jalan. Di lamahala inilah konon kabarnya suku Lamawuran pertama kali mendarat di Adonara, disini juga ada Nuba Nara, Lango Bele, Nobo dan kuburan kakek moyang kita yang paling tua.



Jangan kaget kalau di Lamahala Lamawuran tulisannya berubah menjadi Lama Uran. Kemungkinan perubahan ini karna perbedaan dialek orang pantai dan orang gunung, tetapi artinya sama. Kemungkinan artinya adalah Lama:orang/sekelompok orang/kampung, sementara Uran: adalah berarti hujan. Inilah kenapa suku Lamawuran di kenal sebagai suku pembawa dan penghenti hujan. Di Lamahala ini lah yang disebut sebagai "suku kaka" yang tertua, karna itu semua suku Lamawuran yang ada di Adonara akan berkumpul disini dalam upacara adat yang paling besar. Kalau ingin kesini cari saja Bapak Ibrahim Uran, dialah yang menempati rumah adat kita sekarang.
Menurut cerita, Suku Lamawuran percaya bahwa mereka adalah pendatang di Pulau Adonara, ada tiga kapal suku Lamawuran yang waktu itu datang ke kepulauan Solor, yang satu ke Larantuka, satu ke Adonara dan yang satu lagi ke pulau kecil di balik pulau Lembata.

Masih banyak cerita yang belum ku bagi tentang perjalanan kali lalu karna ku rasa bukan kuasaku untuk bercerita, dan juga ada cerita yang hanya boleh di bagi jika kalian datang langsung kesana. Lebih banyak lagi hal-hal yang perlu di cari tahu lebih jauh sebagai pengingat tentang perjalanan leluhur kita dan juga membantu kita untuk belajar tentang hidup dan kehidupan dari tradisi nenek moyang. Mungkin lain kali, cerita ini,,,,,kalian yang akan melengkapi.:D

8 komentar:

Petronela Somi Kedan mengatakan...

Rumah Besar = Penjaga kelestarian BUdaya...

Simpet Soge mengatakan...

Referensi antropologi tentang adonara dapat dibaca di buku google (tapi hanya setengah-setengah)....contohnya di

http://books.google.co.id/books?id=fnLQ4hmhYOsC&pg=PA92&dq=adonara&hl=id&ei=jo2vTqHyFOqziQeRwenqAg&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=4&ved=0CDUQ6AEwAzgK#v=onepage&q=adonara&f=false

Petronela Somi Kedan mengatakan...

oke terimakasih infonya,,,emmang rata-rata Adonara cuma di bahas setengah-setengah dibeberapa buku,,,bukunya gak ada yang jual algi di Indonesia :(

adonara mengatakan...

Kalo balake sudah bisa baca, dia akan baca surat dari mama eya ini

ChindyLamawuran mengatakan...

Lamawuran SemuaNya berasal dari satu rumah adat yang sama atau gimana yah?.
Saya juga lamawuran, tp belum mengerti asal usul saya sebenarNya. Karna saya besar di Luar daerah Adonara

Vhey mengatakan...

Jagan lupa berkunjung di lewo hinga, ada tempat nenek moyang kita Gego dan gasi.. Yang biasa di kenal dengan Gego rae Hinga Gasi Lau Nara..

Unknown mengatakan...

Salam bangga Lamawuranđź’›

Unknown mengatakan...

Salam kasih Inak Amak Kakak Arik Suku Lamawuranđź’›