03 September 2010

Sawahlunto at the first sight

Ini lah kisah yang dititip pada nafasku

Sesaat yang kadang pilu kadang tragis kadang bengis

Sesaat yang kadang indah kadang Berjaya kadang cengegesan

Sesaat yang sangat berharga,,,,,

Dan ditiap dentuman nafas ini

Aku ingin menikmati kemerdekaan, kesederhanaan dan kebahagiaan




Memilih Sawahlunto untuk tujuan perjalanan kali ini karena dekat Silungkang – pusat tenun yang pernah berjaya di Asia Tenggara –

Kunjungan pertama ke Sawahlunto kali ini (14 September 2010) di buka dengan rasa kesal, museum-museum tutup Sabtu dan Minggu di bulan puasa ini, padahal info dari petugas dinas pariwisata sawahlunto mengatakan; hari sabtu dan minggu museum tetap buka,,,,,menyebalkanL

Dengan demikian, Gedung Info Box (yang kabarnya adalah tempat pertama yang wajib dikunjungi untuk mengetahui tentang Sawahlunto), Museum Gudang Ransum (mantan dapur umum pabrik Ombilin yang sekarang jadi galeri etnografi, ruang audiovisual, ruang konservasi, galeri kontemporer, pusat ilmu pengetahuan,dll), Museum Kereta (yang dulu dibangun Belanda untuk memperlancar arus tambang batu bara Ombilin), Lubang Suro (bekas penambangan batu bara yang terletak tepat di bawah kota Sawahlunto),,, SEMUANYA TUTUP!!!




Taman Satwa Kandi

Meskipun “langkah kida” (langkah kiri) karena semua tutup, tetapi perjalanan apalagi Sawahlunto tak bisa disia-siakan!

Adalangkah suok”(langkah kanan) ketemu dengan pemilik ojek Pendi yang baik hati dan ngasi harga yang tidak terlalu menindas.

Dari Pendi aku tahu tentang Taman Satwa(TamSa) Kandi, kebun binatang yang belum jadi ini posisinya agak serem, jalanan menuju TamSa seperti jalanan menuju kemp yang baru dibuka, tidak di aspal dengan semak dan hutan dikanan kirinya.

Baru dibangun pada tahun 2008, jumlah satwanya sampai saat ini masih 109 ekor dari 36 spesies jadi cuma ada kelinci, kancil, burung, babi, landak, buaya, ular, monyet dll, serta unta yang sombong….

Bukan hanya memfasilitasi satwa, taman ini juga memfasilitasi orang-orang yang ingin tau rasanya jadi satwa :p bergelantungan di flying fox, atau sekedar memuaskan hasrat teriak-teriak di point ballnya. Ada juga fasilitas untuk mengarungi sungai buatan dengan boat yang disediakan.

Ongkos angkutan Padang-Sawahlunto : Rp. 15.000,-

Ojek museum ransum - taman satwa : Rp. 10.000,-

Karcis masuk museum : Rp. 4.000,-







Bekas Tambang Ombilin

Ada dua bekas pabrik Ombilin yang kutemui di Sawahlunto, keduanya sudah tidak berfungsi lagi, tidak pula di rawat untuk dijadikan museum sebagai salah satu spot awal perkembangan industri batu bara di Nusantara. Sangat miris,,,melihat para petugas keamanan bersantai sambil mengawasi pabrik hanya supaya besi-besi pabrik tidak dicuri.

Tak jauh dari TamSa Kandi ada danau buatan hasil galian tambang Ombilin, yang sekarang jadi tempat nongkrong pasangan muda-mudi di Sawahlunto.

Sawahlunto berbukit-bukit seperti obat nyamuk, pusat kota ada di tengah lalu pemukiman tersebar disela-sela bukit. Kota yang kecil dan indah. Menariknya Pendi mengenal hampir semua orang yang dia temui di jalan, dan semua penumpang angkutan sawahlunto plus sopirnya juga saling kenal (sepertinya seluruh penduduk kota ini saling kenal).






Taman Kota, Pasar, Perpustakaan dan Gedung Pertemuan

Di tengah kota Sawahlunto ada taman kota, dengan kursi-kursi antik di pinggir jalan menjadi tempat duduk yang nyaman untuk sekedar bersandar dan mengawasi gerak-gerik kota kecil ini.

Pasar di Sawahlunto kecil sekali, seperti pasar di kota Padang ada tempat khusus dilantai dua untuk penjahit pakaian dan penjahit cintaJ entah kenapa kedua penjahit ini bisa menjadi tetangga di hamper setiap sejarah pasar tradisional. Tidak seperti pasar Padang, saat datang ke pasar ini tidak ditemukan lapau yang buka dengan tirai penutup untuk tempat makan orang yang tidak berpuasa seperti aku yang sudah mulai sekarat dan kehilangan akal sehat!!!

Buktinya,,,aku ingat melewatkan begitu saja bangunan tua rumah cina yang dulunya merupakan tempat pertemuan pelajar melayu, aku juga melewatkan perpustakaan pribadi yang dibuka untuk umum, semua karena jalan dalam keadaan lapar mampusL

Tenun Silungkang dan Sawahlunto

Hari sabtu adalah hari pasar, artinya KEMUNGKINAN pabrik atau toko tenun di Silungkang tutup karena orang-orangnya ke pasar Sawahlunto, info ini kudapat dari pengelola toko tenun yang murah info dan gak serem sama pengunjung kere yang mampir cuma untuk nanya-nanya, foto-foto dan protes-protes,,,J

Ternyata, tenun Silungkang (seperti kain lain asal Sumatera dengan cirri khas benang emas dan peraknya) mendapatkan benang emasnya dari India untuk kemudian di olah menjadi tenunan.

Tenun pabrik Silungkang :Rp. 100.000,-

Baju kaos silungkang :Rp. 45.000,-

Tenun ikat silungkang :Rp. 400.000 – 2.500.000,-

Sarung katun benang 4000 :Rp. 60.000,-

Sarung katun benang 3000 :Rp. 50.000,-

Sarung sutra : Rp.125.000,-




Selain tenun ikat, Sawahlunto juga memproduksi kerajinan patung dan ukiran dalam berbagai bentuk dan harga yang terbuat dari batu bara.

Kalau masih ada nafas,,,,,aku ingin ke Sawahlunto lagi, mencobai, melihat, mempelajari dan memakan semua yang belum sempat!!!

Kalau gak ada nafas, yaaa terpaksa nebeng nafasnya Jhonny Deep



2 komentar:

6desember82 mengatakan...

we'll be side by side for the next journey..either at Jakarta, Bogor, or Bandung..and last but not least..Padang.. And at the end, we'll be side by side at European Cities...

lamalekasiadonara.blogspot.com mengatakan...

deeeeeeeeeeeeaaaaaaaaaaaaalllllllllllllllllllllllll!!!!!!!!!!!!!!