03 Februari 2008

Tenun Ikat Tradisional Flores - Adonara


Kwatek Adonara

Kwatek (untuk perempuan, lihat aku di sebelah kanan,hehheh)/Nowi'n(untuk laki-laki, lihat nowi'n yang digunakan oleh pemain Hedung) merupakan tenunan tradisional asal Flores - Adonara( kalau Malaysia belum nyolong, dan kalau malaysia berani, tite tabu' rak aeka sampe rera gere),,,, Tenunan ini berbeda-beda motif nya di tiap daerah di Nusa Tenggara Timur, khusus untuk Adonara tenunan ini memiliki ciri umum dengan variasi lebih dari 3 benang dan ukiran motif hanya berada di bagian atas dan bawah sarung saja, ini tidak seperti tenunan tradisional lain, dari maumere misalnya, ukiran motif ada di seluruh sarung menyebar secara merata dan padat. Satu lagi yang membedakan kwatek Adonara dengan kwatek lain adalah, penggunaan benang yang di buat sendiri dari kapas sebagai campuran, meskipun cuma sedikit, tetapi pasti selalu ada. Cara gampa
ng dan mahal untuk mengetahui perbedaan masing-masing tenunan tradisional di flores adalah dengan mengoleksi semuanya heheh.

Kwatek dan Nowi'n berbeda dari segi motif dan warna yang digunakan, kalau kwatek lebih "rame" dalam hal variasi warna dan motif sementara Nowi'n lebih simpel.
Meskipun satu digunakan oleh perempuan dan yang satu lagi digunakan oleh laki-laki, tetapi dalam hal penyebuatan, untuk mempermudah kadang digunakan kata Kwatek yang menunjukkan tenunan tradisional Adonara.
Penggunaan Kwatek & Nowi'n

Tenunan tradisional ini sampai sekarang masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Adonara meskipun dengan frekuensi yang mulai menurun sebagai akibat dari perkembangan mode dalam fashion yang didukung oleh kelancaran arus barang dan jasa serta berkurangnya minat menggunakan Kwatek. Tetapi pada acara ataupun pesta adat kwatek masih tetap digunakan karena merupakan sebuah keharusan, misalnya ya dalam tarian hedung atau tarian lain seperti sole (my favorite one, muah, muah,muah), lili dll, dalam pesta pernikahan, ataupun pada saat kematian dan upacara adat lain yang bukan pesta, misalnya orek (acara adat dimana seseorang melakukan perjamuan makan dengan leluhurnya).

Jenis dan HargaTenunan tradisional asal Adonara ini juga berbeda-beda dari segi bahannya,, hal inilah yang nantinya menyebabkan perbedaan harga. Tenunan yang paling mahal dan tidak dijual lagi adalah yang dibuat pada zaman dahoeloe kala, terbuat dari campuran sutra dan benang buatan sendiri dari kapas; di sebut sunter'a, tenuan ini hanya dimiliki oleh suku-suku tertentu yang di sebut ata kebe'len (bangsawan), hanya di gunakan pada saat upacara adat tertentu (kapan yang punya mau). Di urutan kedua adalah kwatek kiwane yang terbuat dari kapas asli dengan pewarna alami . Di urutan ketiga ada kwatek campuran dari benang buatan sendiri dan benang produksi pabrik.
Soal harga? bisa di negolah,,,,sebagai informasi, tanpa perhitungan pengurasan tenaga sang pembuat (perempuan)yang hidup di pinggiran Indonesia, kekurangan air, rata-rata menghabiskan 5 jam untuk mencuci di bak, pulangnya harus kekebun, malamnya harus meniti jagung, kekurangan pendidikan dan kekurangan informasi yang up to date, biaya produksi tenunan ini kurang lebih 80.000 rupi akh. Karena itu dengan segala hormat tolong ditambah dan kalo mau nawar jangan terlalu sadis.

Proses Pembuatan Kwatek
Untuk Kwatek Kiwane proses pembuatannya bisa memakan waktu selama sebulan serta tergantung musim berbunga dari pewarnanya (keroke) dan tentunya musim berbuah kapas. Sementara untuk Kwatek biasa, pembuatannya memakan waktu sekitar satu minggu.
Secara umum apapun jenis dan motif Kwateknya,,,, menurut adat, tenunan tradisional ini tidak dapat dikerjakan jika di suatu kampung terjadi kemalangan - kematian, dan menurut kebiasaan menenun juga tidak dapat dilakukan jika ada pesta besar (ya iyalah, pada sibuk pesta semua).
Ada empat tahap proses pembuatan kwatek, diantaranya;

  1. Pudung,
  2. Ne'ket,
  3. Tane, dan yang terakhir,
  4. Jahit.
Sementara itu untuk pembuatan benang, prosesnya terdiri dari
  1. Kapas dipisahkan dari biji,
  2. Buhuk (kapas di haluskan),
  3. Turek (kapas dijadikan benang),
  4. Lawah,
  5. Kenodot, dan
  6. Pewarnaan.

1 komentar:

Sosinus Aji mengatakan...

Kedane,mungkin suatu saat nanti jadi mahal ya kalo jadi motif nasional.Lagian tite juga sih sering jual sama bule-bule di kampung,jangan udah jadi barang mahal di eropa sana ya? di kampung juga di kalimantan sini banyak saya lihat ibu2 juga yang muda2 pada bikin kebaya dengan bawahan kwatek. dan memang sesuai dengan mode, tuh yang duduk di kursi pake kwatek ama baju kaos aja manis... hu hui, kebarek adonara kog di lawan... Semoga anda dan saya jua semua menjadi pencinta budaya kita.