18 Desember 2011

Adonara Idyll-Anti Idyll

Salju kedua di bulan Desember, sebenarnya sudah cukup ampuh untuk meluluh lantakkan mataku supaya bersembunyi di balik selimut putih yang selalu kelihatan anggun dan mempesona.

Dingin dan beku, bukan cuacanya, tetapi otakku,,,kalau ada masanya hangat adalah ketika pergi mengingat masa menunggui mamak membuat ramuan ajaib jahe, bawang putih dan madunya yang selalu membuat perut dan duniaku hangat. Atau hura bakar mamak tua1 yang selalu membuatku autis dan tak kenal dunia lain selain Lamaleka dan sambal belewa mamak tua2 yang selalu membuat sebaskom nasi putih hangat ludas dalam sekejap oleh ku seorang yang sangat bijaksana ini (makin ngelantur),,,, brrrrrrrrrrr

Apa boleh buat untung tak dapat di raih, malang tak dapat di tolak, ujian tak dapat di hindari, ingin rasanya kabur dari ujian periode ini, sebagian karena trauma ujian dan sebagian karena alasan ideologis yaitu; males,,,hayah ^_^. Malam ini, satu lagi peristiwa bersejarah terjadi, jumlah bacaan ku yang melebihi bacaan komik dan novel yang pernah ku baca, kira-kira 150 lembar baru saja selesai ku lumat. Bacaannya tentang transformasi dan sosiologi pedesaan.

Belakangan ini sebenarnya jadi mata kuliah favorit, bukan apa-apa, cuma karena dosennya bisa berbahasa Indonesia, tetapi itu baru terakhir-terakhir ini. Sebelumnya aku tak suka dosennya, karena dosen pertama yang mengajar masuk ke kelas dan dengan gagah berani menyebut kan desa yang karakteristiknya ; pertanian, kealamian dan keliaran itu adalah abstrak (Cloke, Perkins 1998).

"muke gile, lu pikir gw lahir, besar dan nyari hidup dimana selama ini?di asbtrak?"

Tentu saja ucapan itu hanya ku pendam di dalam hati yang akhirnya jadi jerawat batu dan tulisan ini. Tapi itu kesan pertama, kesan selanjutnya "kosong" karena gak ngerti dosennya ngomong apa, bahasa inggris seh hahahahah coba kalo bahasa lamaholot ato bahasa sunda, go tetap menge hala ibu guru ^_^.

Salah satu topik yang dibicarakan di mata kuliah ini adalah tentang: 


Image Desa dan Identitas yang Diperebutkan
Ada beberapa tulisan dalam topik ini, diantaranya;

Bell(2006) memfokuskan tulisannya pada desa ideal (rural idyll; kupikir terjemahan ke desa ideal juga belum terlalu pas, tapi aku tak sanggup lagi menterjemahkannya) - image positif dan indah tentang desa - dan juga anti-ideal desa (anti-idyll) yang merupakan hal-hal yang bukan desa ideal.

Itu artinya ketika menyebutkan kata Adonara ada sejumlah karakteristik terkait Adonara ideal paling tidak meloncat-loncat di otak kita misalnya; hura, beloma, jagung bose, watak kenae, sole tentunya, hedung, dan kebun yang subur meskipun kering. Dan anti-idealnya bisa jadi kekerasan terhadap perempuan, sikap kasar, perang antar suku dan egoisme.

Nah menurut ama Bell ini, image tentang desa ideal/ Adonara ideal ini secara sosial di konstruksikan oleh; pengalaman dan ingatan pribadi, pengetahuan, cerita atau dongeng, imajinasi, narasi dan publikasi media misalnya lagu-lagu, film dan lain-lain. Maka yang kita lakukan; mempublikasikan foto-foto Adonara, video dan tulisan tentang Adonara, perilaku kita dan komen-komen kita di FB merupakan kepingan - kepingan kisah yang akan membentuk Adonara ideal atau anti-ideal dimata internal anak Lewotana dan di mata external. Jadi hati-hati kalo mau posting fotoku, takutnya orang luar ngira Adonara itu isinya bidadari semua (aduuh gila ku kumat lagi heheheh). Artinya kemudian bukan hanya alam dan atribut budaya Adonara saja tetapi setiap kita adalah representasi dari ideal atau anti-ideal Adonara.

Sampai disini kayaknya gak perlu S2, kakek gw juga tau kali "pana di koon Adonara pana, tobo di koon Adonara tobo"

Untuk apa bicara desa ideal ini?

Ada banyak booookkkk alasanyah;

Menurut ina Garcia (2005) di dalam desa ideal ini terkandung "identitas asli" nah, dalam tulisan nya, ia mengisahkan bagaimana dengan mengidentifikasi desa ideal ini penduduk sebuah desa di Peru mengetahui bahwa bahasa asli mereka mulai punah. Kemudian intelektual desa dengan dukungan pemerintah dan LSM di Peru mulai mengembangkan program reformasi pendidikan dengan menerapkan pendidikan dwi-bahasa (bahasa daerah-Quechua- dan bahasa national-Spanyol-) hal ini untuk mencegah kepunahan bahasa asli mereka. Dengan melibatkan teknologi, training dan juga perang ideologi bahwa menjadi pribumi berarti juga menjadi modern. Yaaaa,,, tentunya dengan berbagai pertentangan horizontal dan vertikal.

Sementara itu penduduk Xoco Indian di pulau Sao Pedro menggunakan identitas asli mereka ini untuk merebut hak pribumi mereka atas tanah yang dikuasi oleh tuan tanah. Karena buat mereka Indian tanpa tanah itu bukan Indian namanya(French 2009).

Ada juga cerita dari Monique Nuitjen (2010) (dosen cantik yang baik hati, aku mengagumi tulisan dan orangnya karena dia selalu memberiku nilai nyaris 10-jumawa.com, dan kalau memberi tugas, pertanyaannya tidak berbelit-belit seperti ular tangga), ceritanya masih di Amerika Latin, tentang "identitas asli" yang di gunakan untuk memperjuangkan hak asasi, karena menjadi berbeda adalah hak asasi setiap manusia.

Bagaimana mengetahui desa ideal dan identitas asli ini?

Reto Solivia (2007) melakukan penyusunan terhadap narasi desa ideal di pegunungan Alpen Swiss. Ia melakukan wawancara dengan beberapa individu tentang desa ideal, menulisnya, mengelompokkan dan menganalisa nilai yang melatar belakangi nya lalu melakukan diskusi kelompok terfokus, menulisnya dan menganalisanya lagi sampai kemudian ia menuliskan empat buah narasi tentang pembangunan di tempat ini.

Sementara itu, Halfacree (2006) mengusulkan pendekatan segitiga untuk mempelajari desa dengan menganalisa tiga hal; localitas desa (proses produksi dan konsumsi), representasi formal ( birokrasi dan politik), dan kehidupan keseharian di desa (budaya).

Bisa juga dimulai dengan cara sederhana "bertanya" seperti yang dilakukan pastor Frei Enoque di Peru (French 2009). Dengan bekal teologi pembebasan yang ia punya, ia mulai bertanya kepada masyarakat sekitar, siapa mereka dan apa yang dulu mereka punya dan yang seharusnya mereka punyai kemudian disusul dengan analisa dokumentasi sejarah, pengumpulan bukti kepribumian, class action dan berakhir dengan reformasi tanah.

Maka kemudian, pertanyaan reflektif yang agak malas ku jawab sendiri adalah; apa artinya menjadi seorang Adonara? Apa identitas asli Adonara? Bagaimana Adonara dahulu-sekarang- dan bagaimana ia sebaiknya di masa depan?
Tiga pertanyaan sederhana nyaris norak diatas dapat membantu kita memetakan dan menginventarisir Adonara Idyll dan Anti-Idyll Adonara.

Tidak ada komentar: