Tampilkan postingan dengan label Uma Nulu Nuda-Tenun Ikat Adonara-Kewatek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uma Nulu Nuda-Tenun Ikat Adonara-Kewatek. Tampilkan semua postingan

18 September 2016

Siapakah Yang Menjadi Pengendali?



Membongkar dokumen dalam folder Menulis Untuk Memerdekakan dan menemukan tulisan kecil ini ....
"Ceritakan tentang kampung halaman" katamu suatu sore dari pulau Jawa kepadaku yang sedang mencari-cari langit senja di balik Ile Boleng - yang tidak pernah kutemui setiap kali kutunggui dia di pintu dapur. 

" Nanti saja kau baca tulisanku di blog,,, semua sering kutulis di blog kok" janji ku padamu adik kecilku yang seram - bagiku kau selalu lebih seram dari preman pasar meskipun setiap bulan kau selalu rebonding dan mukamu kau putihkan secara sengaja!!!

Dan inilah salah satu cerita itu, bukan tentang emas, intan atau permata

Tetapi tentang kapas!!! (yang mengingatkanku kembali pada ANT-teori jaringan aktor yang kubaca di akhir penulisan thesis ku--catat di akhir!! bukan di awal!! Teori ini bercerita tentang bagaimana benda-benda juga bisa mengontrol hidup aktor lain seperti manusia)

Begini ceritanya,,,,auuuuuuuuuuu (suara lolongan anjing hutan)

Pada mulanya adalah kapas,,,,kapas ini dahulu katanya banyak ditanam di daerah Witihama (kampung kita-mu Lamaleka bagian dari kecamatan Witihama) dan Koli, ada kapas dengan biji kecil dan kapas dengan biji besar ,,, hanya penenun sejati sajalah yang bisa membedakan kedua jenis pohon kapasnya....


Saat ini, sudah tidak gampang lagi mencari kapas, tetapi mama tua selalu bilang
“nabon tou di tou” artinya meskipun cuma satu, pasti masih ada pohon kapas

Disadari atau tidak, kapas adalah penghubung langit dan bumi,,,kalau kau ingin ketemu dengan nenek moyang, siapkanlah kapas . Kalau kau ingin menghadap nenek moyang untuk meminta maaf atas dosa - dosa mu, bawalah kapas lekatkan di lidah sampai ke hati mu. Jika kau mau berdamai dengan sesamamu,kapaslah perantaranya begitupun ketika menjadi kewatek, ia menjadi perekat sosial.

Kapas adalah penghubung waktu, kapas yang dijadikan benang ditenun dengan berbagai warna dan motif; di dalamnya tersirat pesan moral dan sejarah yang bahasanya mencuat mencari posisi eksis, tetapi maknanya hampir tertanam di kubur waktu.

Tanpa kapas,,, manusia Adonara tak dapat berkomunikasi dengan leluhur, apalagi meminta berkat dan kebijaksanaan, disinilah kemudian Antropolog stress akan bertanya Tanya; siapakah yang menjadi pengendali ,,, manusia atau kapas?

09 Juni 2015

Eksis Harmonis di Episode Yang Buruk!

Ini adalah salah satu episode yang buruk itu,,, lebih buruk dari pada nilai matematika ku dan lebih buruk dari suara ku saat bernyanyi,,,percayalah!

Selain "pembunuhan" karena setiap kali bermasalah dengan nya aku selalu diare, susah tidur dan ingin tenggelam di dasar gunung berapi lalu hilang dalam kelam yang lebih kelam dari kulitku, kata lain cinta mungkin "pembodohan"; membuat otak mendadak menuntut libur panjang dari berpikir jernih.

Bisa-bisa nya aku terjebak di arena nya tanpa agency, euh Alberto sayang,,,,, kau pasti akan loncat-loncat kalau tau apa yang sudah terjadi pada murid mu ini. Dan akan bilang,,, the most important thing is the agency!!!
Kalau jiwa murni Plato melihat ku, dia mungkin akan khusus bangkit dari kubur sekedar untuk kembali mengulang ceramahnya soal cinta,,,cinta yang menurut dia membuat orang dengan suka rela dan segenap jiwa berubah ke arah yang lebih baik.
Dan aku dapat berkata, well boss, tidak semua cinta merubah orang ke arah yang lebih baik, ada juga cinta yang yang merubah orang menjadi teroris atau teror dadar dan berakhir perang dunia yang sudah tidak bisa dihitung dengan sepuluh jari. Kau harus jadi makhluk luar angkasa dengan 20 lebih jari untuk menghitung jumlah peperangannya boss.

Dan diantara hati, jantung dan rambut yang sama berantakan dan sama merumitkan intelektualitasku ini, salah satu jalan untuk tetap memberi makan kebahagiaan adalah dengan Eksis Harmonis,,,tentu saja!

Negeri di bawah laut ini jadinya mesti melihat ku mondar mandir setiap akhir pekan di setiap sudut kotanya :)

I amsterdam, 
Akhirnya bisa juga berfoto di tulisan I amsterdam ini, setelah menunggu lama untuk mengantri mengambil foto di depan tulisan yang sebenarnya biasa saja ini,,,euh!
Batavia Stad
Yup, ini tempat shopping yang harga barang-barangnya mahal, anehnya, di dekat factory outlet yang berjejer itu bersandar sebuah kapal perang yang meriamnya masih aktif, tentu saja sebagai orang Indonesia rasanya seperti ada yang ngajak ribut saja.
Dan di negeri ini, orang Indonesia boleh lewat, tidur tiduran dan loncat-loncat di jalan atau di tengah jalan sekenanya,,,,
karena kalau ada yang tanya; woiiiii emang nenek moyang lo yang bikin ni jalan?
Kita bisa menjawab dengan tenang:yoiiii mamen!!!
Benteng De Burcht 
Kabarnya benteng ini di bangun tahun 1150 untuk melindungi warga leiden dari bahaya kebanjiran. 

Den Haag
Foto ini maknanya cuma satu: stress nyari tempat bermakna disekitaran Den Haag!

Keukenhof 
Nah, ini dia taman bunga yang katanya terbesar di Eropa,,, dibuka dari bulan Maret sampai Mei,  ini adalah kunjungan kedua ku. Setelah kunjungan pertama yang berkabut cuaca dan hati ku. Kalau ada yang berniat kesini, sebaiknya jangan weekend, ramenya,,,taman bunga berubah jadi taman manusia segala bangsa!
Molen De Put, Depannya kebun bunga Hortus Botanicus, Sebelah KITLV lama, Depan Rumah Rembrandt, depan rumah Cristiaan Snouck Hurgronje
Inilah tempat-tempat yang bisa di kunjungi di leiden!

Di Leiden Sajah

Lisse
Akhirnya cita-cita mengunjungi kebun bunga Lisse kesampaian juga :D

22 Mei 2014

Menenun Benang dan Kebenaran; Kembali Ke Tenun, Kembali Ke Kebun Kembalikan Kedaulatan Petani; Uma Nulu Nuda

Salam Semangat Belajar dan Berjuang!!!

Masih menunggu tanggapan, masukan dan kritikan,,,,,ini merupakan rancangan selebaran yang rencananya akan di bagikan pada tanggal 20 Agustus 2014 di Kediri.
Kalau ada yang berminat membantu desain, sila hubungi akun FB:Uma Nulu Nuda.

Merdeka!!

15 Agustus 2013

Sedon Noon Barek

Aku teringat sebuah kalimat dalam sebuah novel yang kubaca di kota karang beberapa waktu lalu,

"Dongeng menceritakan kebenaran dengan cara lain, Nak. Yang penting, kamu harus bisa menemukan cara baca yang lain itu" 

Aku suka sekali kalimat itu, meski tidak terlalu paham cara membaca yang lain itu, yang pasti... ini dongeng yang paling kusuka,,,,dan ini dongeng pertama yang kudengar langsung dari seorang pemilik kebijaksanaan,,,dongeng-dongeng lainnya, biasanya kudapatkan dari membaca buku dan tulisan-tulisan terpenggal dimana-mana (itulah kenapa sekarang mataku minus gak kira kira)

Ini lah dongeng pertama itu yang kudengar langsung dalam tiap nada kalimat yang selalu mengalir dalam darah sampai ke ujung jemari di sepanjang penulisan thesis romantis ku yang di tuduh sebagai komik oleh seorang teman ... in fact... dongeng ini ku letakkan di "ruang" khusus dalam lembaran thesis ku yang hampir jadi :D --- ku tempatkan diantara hati dan jantung, karena sebagian darinya memberiku rasa penasaran untuk meneruskan perjalanan membangun "rumah" tenun ---  
#karena dongeng ini diteruskan oleh seorang pemilik kebijaksanaan kepada pemilik jaman#
#dan ruang-ruang itu akan kita isi dengan lukisan-lukisan yang tidak akan hilang sampai kapanpun,,,karena kita meruang bersama seluruh semesta yang agung#
#dan lukisan-lukisan lama itu akan kita letakkan pada ruangnya --- diantara hati dan jantung setiap generasi yang menanggung darah kemerdekaan, kebudayaan dan kebahagiaan bagi semua rakyat di dunia"

11 Agustus 2013

Dunia Para Penenun - Terlambat Satu Bulan

-Hari ini membongkar beberapa catatan lapangan, kutemukan sebuah catatan lapangan yang manis,,,, Tentang kisah cinta seorang penenun yang kukenal --


Cerita manis setelah sarapan pagi ini. Semalam saat mendoa 100 harinya Ina Kewa dan syukuran wisuda anaknya. Ina Prada dan Ama Kopong berbicara lama sekali dalam bahasa kampung yang cepat dan suara pelan sehingga nyaris tak ku mengerti apa yang mereka bicarakan. Karena sudah mulai bosan dan merasa tidak nyaman, ku katakan pada Ina Prada “ina, balik ki, go matak odo”. 
Sekali ku katakan dalam nada pelan tapi tak diindahkan. Berikutnya terpaksa ku katakan dengan nada sedikit keras supaya terdengar. Akhirnya kami pun pulang.

Keesokan paginya, aku bersama seorang teman datang untuk sarapan pagi bersama di rumah Ina Prada.. Kemudian Ina Prada mulai bercerita tentang apa yang ia dan Ama Kopong bicarakan.

Semalam ternyata mereka membicarakan perihal hubungan mereka dahulu #pantas saja aku pernah mendengar Ina Prada memanggil Ama Kopong dalam panggilan yang sangat akrab#.
Dulu, sebelum merantau, Ama Kopong memberikan cincin pada Ina Prada sebagai tanda pengikat cinta dan janji mereka dengan kesepakatan untuk bertemu pada awal 1983 untuk berkat di gereja. Tetapi pada akhir 1982, seorang pria lain pun pulang dari rantau; ia dihubungi oleh kerabatnya untuk pulang lebih cepat kalau ingin menikah dengan Ina Prada karena “disini banyak yang mau sama dia”, kemungkinan karena kerabatnya ini sudah mengetahui soal perjanjian 83 sehingga meminta saudaranya untuk pulang di akhir tahun 1982.

Di rantau, Ama Kopong baru mendapat kabar rencana pernikahan Ina Prada lama sekali karena saat itu belum ada HP atau teknologi komunikasi lainnya dan bahkan setelah mendengar kabar itu Ama Kopong pun masih harus menunggu Bapak kecilnya menyelesaikan urusan mereka untuk pulang ke Adonara bersama-sama.

Sementara di kampung, entah kenapa Ina Prada yang saat itu tidak berpikir untuk menikah dengan orang lain dan mengatakan bahwa ia memang sudah ada yang punya. Tiba-tiba di kondisikan secara tidak sengaja dan sedikit diluar kendalinya untuk menikah dengan pria lain ini. Akhirnya menikahlah mereka dan berangkat meninggalkan Adonara pada Desember 1982. 

Januari 1983 Ama Kopong pulang dari rantau, awalnya tak ada yang berani memberitahukan perihal menikahnya Ina Prada,  ia masih memajang foro kekasihnya di dinding rumahnya. Setelah mendengar kabar pernikahan Ina Prada, hati Ama Kopong hancur berantakan.

Sempat mereka bertemu beberapa tahun kemudian setelah masing-masing menikahi orang lain dan memiliki keluarga, tetapi tidak saling sapa. Lama kelamaan, Ina Prada mencoba menjalin komunikasi karena ia merasa, ia juga tidak sengaja melepas ikatan cinta mereka. Kata maaf juga belum sempat terucap. Bahkan setelah suami Ina Prada meninggal pun mereka belum mendapat kesempatan untuk saling berbicara. #dapat dimaklumi, karena di kali lain, Ina Prada pernah bercerita tentang komunikasi privat laki-laki dan perempuan yang pada generasi mereka sangat dibatasi, bahkan ketika waktu telah berlalu, mereka masih mengikat diri pada tata krama generasi mereka#

Dan kemarin malam, setelah 30 tahun lamanya, saat mereka ada kesempatan untuk saling bicara tentang masa lalu, saat kata maaf itu akan di ucapkan oleh Ina Prada, aku malah meminta pulang cepat. Sehingga kata maaf itu pun tidak sempat terucap.

Tak berapa lama,,,,ku dengar kabar,,,,  istri Ama Kopong baru saja meninggal dunia,,,

Entah bagaimana cerita ini akan berlanjut ...



16 Mei 2013

Narsis cara saya!!!

Kita mungkin masih akan mencari-cari jalan, memutuskan batas antara eksploitasi budaya dan penegasan identitas. Kita juga masih mencari-cari pola menuju kemandirian dan kedaulatan berbasis budaya lokal, meningkatkan ekonomi dengan tidak melepaskan atau mengurangi nilai budaya dari kain ini.

Dan sampai waktu itu tiba....mari kita nikmati perjalanan mencari identitas ini,,,mencari identitas kewatek, mendefinisikannya, mengkarakterisasikannya, melestarikannya dan pada saat yang sama mengembangkannya ....
Dan sebelum waktu itu tiba,,,mari kita nikmati proses belajar dan berjuang ini.... membumikan mimpi dalam visi dan stategi yang kita mampui.... meski kecil, kita perlu sesuatu yang dengan bangga dapat kita sebut sebagai "milik kita", "identitas kita"


28 April 2013

Rasa penasaran - Krore - Dan jiwa itu

Sepertinya,,, kita memang tidak pernah berubah,
nafas yang ada di tubuh kita, adalah nafas yang sama yang sudah di tanam berjuta-juta tahun yang lalu, yang mengenali bentuk dan darahnya sendiri tanpa memerlukan penjelasan yang rasional karena semuanya sangat emosional.

Sewaktu kecil, aku sering bermain di tanah liar dan persawahan dekat rumah, tanah liar dan sawah itu sekarang sudah berganti dengan rumah-rumah kontrakan termasuk rumah kami. 
Tetapi kenangannya masih tetap abadi;
kenangan menyaksikan penduduk mengejar ular di sawah, 
menunggui pondok penghalau burung-burung pemakan padi,
mengganggui orang-orangan sawah karena otak mungil ku benar-benar berpikir bahwa orang-orangan sawah itu dapat hidup kalau di "colek" atau di "godain",
mengumpulkan daun pisang kering, menggulungnya dan membakarnya lalu menghisapnya layaknya om - om di lapau one yang menghisap rokok dengan sangat dewasa, sampai kami terbatuk dan sadar bahwa "rokok mungkin memang tak terbuat dari "daun pisang",
kenangan membuat markas romantis terbuat dari rumput-rumput tinggi di tanah tak bertuan dekat rumah, tempat melarikan diri dari mencuci piring dan tempat aku juga melarikan piring karena aku ingin menjadikan gua alang-alang itu sebagai rumah,

di dekat rumah alang-alang ku, aku sering mengumpulkan banyak daun-daunnan untuk ku masak dengan kompor buatan ku sendiri; kadang ku ambil beras mamak, dan juga sayurannya, kadang kubuat sayuran dari dedaunan dan buah-buahan di tanah tak bertuan itu (mungkin inilah penyebab kegagalan ku meningkatkan kualitas memasak, karena memang tak bisa bedakan sayur dengan rumput). Salah satu pohon dengan buah yang sangat banyak dan selalu terbuang adalah Mengkudu - Krore

Kecerdasan masa mudaku ku tidak paham buah itu mau di apakan, kalau di jadikan nenas baunya sangat tidak enak, kalau mau di tinggalkan dari skenario masak memasak sangat sayang, karena bentuknya agak unik dengan jerawat besar-besar, lagipula ini satu-satunya buah yang tidak menimbulkan keributan di antara kami, karena tidak ada yang mau memakannya. Percayalah, aku tidak memakannya karena tau, saat muda dan belum agak bau, buah itu tetap tak enak. Maka sampai disitu aku selesai, bahwa buah yang banyak di tanah tak bertuan itu hanya bisa digunakan untuk mainan saja.

Saat beranjak tua - katanya tua pasti dewasa belum tentu- aku mulai mendapat berita bahwa buah mengkudu itu dapat di konsumsi untuk mengobati beberapa penyakit. Akhirnya aku kadang membantui mamak memetik buahnya yang masih muda untk mamak jadikan jus, dia bahkan membuat jarakku dengan pohon mengkudu itu lebih dekat karena ia menanamnya satu di depan rumah. Sehingga setiap pergi dan pulang dari kampus aku selalu melihat pohon dan buahnya, sepertinya mengkudu memang tak punya musim, selalu saja berbuah.

Terakhir, kalau informasi yang kuterima tidak salah - kalau salah ya mangap - mengkudu atau yang di Adonara lebih dikenal dengan nama Krore, ternyata akarnya di gunakan sebagai bahan pewarna alami benang.

Salah satu ibuku  bahkan mengatakan;

" Tite ne krore taan kenirek jadi tite ake taan ta sembaran. Tau ne ti bebas, tapi untuk mengkudu ne susah"

Maka sekarang, kecerdasan masa mudaku menemukan jawaban atas rasa penasaran ku, tentang sesuatu yang telah lama kucurigai tak ada gunanya tetapi tetap menarik perhatianku. Akar Krore ternyata di gunakan untuk pewarna pada ikat di keluarga kami.


Sekarang cara ku melihat krore sudah sangat berwarna dan berbeda, 
sebuah proses perkenalan yang baru dengan krore, 
semakin dekat dengan rasa penasaran yang selalu ada di jiwa yang mungkin sudah dihembuskan sejak lama.


18 April 2013

Girek - Melukis



Baru ku tau kalau Kenirek itu berhubungan dengan kata Girek yang katanya sendiri berarti menggambar pola  menurut boro beda ... kata itu entah kenapa juga sudah sejak lama kujadikan judul blog ini - MELUKIS DENGAN CAHAYA.

Masih dalam pencarian ku tentang kewatek.

Melukis bukan cuma dengan cahaya - gambar dan tulisan -  yang biasa kulakukan, Perempuan adonara biasa melukis pertama-tama  lewat doa lalu kemudian lewat pekerjaan - benang, jagung - . Belakangan, aku belajar melukis dengan cara yang lain ; membaca literatur, mencoba memahaminya dan menyusun informasi itu kedalam peta, peta sejarah adonara yang baru saja dimintai dosen pembimbing untuk kulengkapi lagi dengan peta sejarah perang yang dia istilahkan dengan "moiety".

Orang-orang Adonara menampilkan lukisan; dalam pekerjaan, dalam doa-doa, dalam perang dan dalam sesuatu yang tak terbaca dengan gampang. Seperti lukisan abstrak, mereka memiliki pantun-pantun yang maknanya tak sama dengan jumlah hurufnya.Tetapi perempuan dengan lantang meletakkan sejarah yang dianggap tabu di depan hidung semua generasi. Lukisan itu di letakkan di depan dengan gamblang dan entah kenapa - mungkin tak tau atau mungkin tak mau tau atau mungkin tak ada yang mau menceritakan, orang-orang ini tak tau apa maknanya, padahal cerita itu tergambar jelas.

Tak perlu mencari jauh-jauh kemana cerita moiety dan sejarah "polity" (satu lagi istilah yang kupelajari dari pembimbingku)  itu disembunyikan, karena ia tidak pernah di sembunyikan sama sekali. Perempuan tak pernah menyembunyikan sejarah. Ia ada disitu, jelas-jelas terlihat dan kau pakai setiap hari. Perempuan Adonara menitipkan segala macam tetek bengek sejarah dalam satu kain dan membuat anak-anaknya, membawa kain itu kemanapun mereka pergi.

Kain/Sejarah - inilah yang terus menghubungkan setiap dunia dan setiap generasi.

11 Februari 2013

Thesis Romantis 2

Langkahku agak lunglai, salju menutupi Wageningen, dari suhu 39 derajat aku harus segera beralih ke 3 derajat!!!! Tetapi di gedung Leuwenborgh itu, yang mulia pembimbing telah menungguku dengan sejuta kehangatan dan tentunya penasaran. Maka jadilah aku memaksakan upik abu untuk keluar pagi-pagi pukul 09.30 AM saat matahari di Wageningen masih malu-malu menunjukkan diri , karena ia memang memalukan sekali!!! Percuma saja dia bersinar bulat terang dan gagah kalau suhu di desa ini tetap 3 derajat celcius paling tinggi ... #emisi emosi gw!!!


Dan seperti yang sudah ku duga,,,kehangatan sudah menunggu di ruangan 3040 itu, disambut dengan pelukan hangat dan kecupan, kami berakhir di kantin kampus, dengan segelas coklat hangat di tangan kanan dan buku catatan merah merona seksi di tangan kiri, aku melancarkan keahlianku; bertutur :p 

Tentu juga karena pertanyaan yang mulia pembimbing adalah, bagaimana kabarmu? bagaimana keluargamu? dan bagaimana pacarmu? #hihihihi, aku cinta pembimbingku, suatu saat aku ingin bisa belajar mengajar seperti dia; tegas dan ramah, cerdas dan ganas, baik dan pelit nilai , segalanya dech pada saat yang bersamaan...seperti kapas putih dan jari jemari nenek kaka rinane yang kuceritakan :D

Dan terakhir dia mengatakan,,,so about your report,,,now we're getting serious ... hiks hiks. Akhirnya,,,,,aku yakin dia sudah menahan diri dari tadi untuk menanyai laporanku. Tetapi yang tetap menjaga kesehatan jantung ku untuk tidak langsung kolaps adalah; dia tidak menanyai laporan fisik ku, tetapi memberikan ku pertanyaan tentang:

"Jadi, apa yang kamu ingin sampaikan di Thesis mu ini?

tentu saja aku sudah punya jawabannya, karena ada disini di ujung lidah!

"Aku ingin katakan bahwa Kewatek; dari lahir sampai setelah kematian, dari ide sampai materi selalu ada di jantung perempuan Adonara dan Kewatek itu adalah milik Adonara dari ujung pantai sampai gunung, dari tanah Lewo sampai tanah Rantau dan beberapa hal lain" 

Yang kemudian aku diminta memilih beberapa fokus saja untuk di tuliskan karena aku sedang menulis thesis bukan disertasi!!! Maka kamipun mulai membuat jadwal kami bersama #napasku makin sesak dengan padatnya jadwa :'(

Dan terakhir, aku pun melancarkan pertanyaan yang sudah kusimpan sejak lama 
"Menulis thesisnya harus formal ya bu? tidak bisa seperti menulis novel saja?"
Sukurlah pertanyaan itu tak membuatku dilempar sepatu boot :D, tetapi dengan lembut dan tenang seakan sudah maklum bahwa anak bimbingannya agak gila, yang mulia pembimbing menjawab "iya nela, formal!"

huft,,,aku pun pulang dengan sejuta jadwal dan tugas,
Tetapi salju di hari Minggu sangat menggoda, meski belum satu katapun ku produksi,,,,,,,salju hadir untuk di nikmati sambil bersujud, semoga Lewotana ada di jantungku dan tunjukkan apa yang dapat ku sampaikan dan apa yang mestinya hanya disimpan saja di antara jantung dan hati, diantara langit dan bumi Adonara, karena ia cuma milik Adonara.

Happy long winter and of course ; happy writing to me and all my friends :D



06 Februari 2013

Thesis Romantis

Harap di catat,,,catatan melow dan penuh curhatan ini ditulis saat harus membuat laporan yang super serius bernama Thesis... tapi jauh di lubuk hati ku ,ingin sekali rasanya mengirim pesan pada dosen tercinta:

"yang mulia pembimbingku,,,,aku tak sanggup membuat thesis, bolehkah, jika engkau berkenan: aku menulis puisi saja? atau cerpen saja? atau mungkin novel? pleaseeeeeeeeeeeeeeeeeeee ... kupastikan isinya kan sangat romantisssssss :D "

"Dan kalau engkau berkenan,,,boleh kah aku menuliskan sebait kata-kata yang indah saja yang isinya begini:

"sekembalinya dari penelitian tentang tenun ikat adonara..... saat harus membuat laporan... yang ku inginkan adalah: kembali lagi dan belajar lagi :/ belajar dari kapas, belajar menjadi kapas, yang putih dan berwarna pada saat yang tepat......belajar menjadi jari nenek kaka rinane,,,yang lembut dan kuat pada saat bersamaan :/"

yang dalam kalimat singkat itu berarti: aku ingin pulang lagi heeeeee #pasang nyengir paling lebar dan aneh, lebih aneh dari kuda gunung-akh kuda ile boleng itu benar-benar memikat :D errrggghhh!#


Dan yang mulia pembimbingku, pagi ini, beberapa jam sebelum pertemuan kita, saat aku seharusnya mempersiapkan laporan untuk ku bawa padamu,,,entah kenapa, otakku isinya hanya romantisme saja, dan instead of menulis laporan, yang kutulis adalah blog ini, dan percayalah...bukan aku tak mau ,,,, tapi perpaduaan antara rasa lapar, sakit hati, dan rindu ini tak bisa di perbaiki oleh tukang tambal ban sepeda di sudut kecil centrum Wageningen, dan tak bisa membuatku menuliskan apapun yang sesuai standar penulisan thesis untuk ku bawa padamu...not even a word,,,,,saya benar-benar impotent!!!! #menangis di sudut kulkas sambil mencari persediaan makanan teman

Dan pembimbingku tercinta,,,,, mungkin aku memang tak punya budaya menulis, melainkan hanya budaya tutur,,,semoga budaya tutur ini menyelamatkan ku ---seperti yang selalu terjadi--- saat pertemuan kita nanti.... :D dan kalau memang begitu, sepulang dari pertemuan nanti aku akan ikut audisi tutur tinular jika itu bisa membuat mu bangga pada anak bimbinganmu ini :D

Demikian laporan hasil penelitian saya

Penuh Cinta

Dari murid bimbingan yang mencintaimu dan berharap enkau tak melempar sendal padaku

24 Mei 2011

Presentasi pertama - Kwatek, The Ikat Textiles of Adonara Island

Presentasi pertama, mendebarkan, menyebalkan, menyenangkan dan lapar,,,semua pada saat yang bersamaan,,,masih perlu banyak perbaikan bahkan perbaikan teknis,,,

beberapa foto di dapat dari
http://www.facebook.com/borotura
indonesiatravelling.com
http://www.facebook.com/profile.php?id=100000052737591
http://www.facebook.com/pages/Pulau-Adonara/196133760427455
http://www.facebook.com/profile.php?id=100000843523065
http://www.facebook.com/theresia.suban